Program GLS SMAN 6 Mataram Tarik Perhatian Pemerintah Amerika
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya mengunjungi SMAN 6 Mataram, Jumat (23/2). Kedatangan mereka ke Smansix sebutan SMAN 6 Mataram karena tertarik dengan program gerakan literasi sekolah (GLS).
Kedatangan Kedutaan Besar AS di Jakarta dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya disambut tarian kembang sembah yang ditampilkan siswa. Hadir dalam kunjungan tersebut Plh Kepala SMAN 6 Mataram Hj Maesarah didampingi Waka Humas SMAN 6 Mataram Emmy Suprihatin, Waka Kesiswaan SMAN 6 Mataram Hidayatullah.
Termasuk pengawas pembina, guru, dan sejumlah siswa. Maesarah menyampaikan terima kasih kepada Kedutaan Besar AS di Jakarta dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya. Ia merasa bangga karena tidak semua sekolah dikunjungi dan memiliki gerakan literasi sekolah (GLS). ”Salah satu program GLS menulis buku dan guru sudah menghasilkan karya. Bahkan siswa juga sudah menulis buku,” ujar perempuan berjilbab ini.
Meski dunia dilanda pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, tidak menyurutkan semangat guru dan siswa menulis buku. Tercatat, ada 80 lebih buku yang ditulis guru dan siswa. ”Bu guru Aminah ada 25 buku yang sudah ditulis,” jelasnya.
Selain itu, ada guru penggerak di Smansix yang dikenal dengan sepeda ontelnya yang membawa buku. Ia berharap terjalin kerja sama antara Kedutaan Besar AS di Jakarta dan Konsulat Jenderal AS di Surabaya terkait program sekolah dan bisa saling menguntungkan.
”Sejumlah siswa juga sudah menulis buku,” ucapnya.
Dia menambahkan, kunjungan ini menjadi suatu kehormatan dan kebanggaan sekolah.
”Terima kasih atas kunjungan dan saya berharap ada kerja sama ke depannya,” ucap Mae, sapaan karibnya.
Pengawas Pembina SMAN 6 Mataram Sahrul menyampaikan, literasi merupakan sebuah pembiasaan.
”Kita negara terendah kedua untuk minat membaca,” sorotnya.
Kini, yang menjadi tugas guru bagaimana mengarahkan siswa rajin atau gemar membaca. Sehingga bisa menulis buku.
”Gerakan literasi tidak hanya membaca, namun juga bisa membuka google untuk memanfaatkan literasi,” sarannya.
Ia menyarankan agar siswa kelas XII sebelum lulus agar menulis satu buku.
”Ketika anak menuangkan hati dan perasaan dalam tulisan ini sebuah skill menulis,” tuturnya.
Dikatakan, jika praktik baik ini dituangkan maka akan sangat bagus.
”Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini. Sekolah ini memiliki gerakan literasi yang cukup baik,” pungkasnya.
Guru SMAN 6 Mataram Yopi Aris Widianto menuturkan, Smansix menerapkan GLS sebagai program unggulan.
Program ini salah satunya akan menumbuhkan budi pekerti agar memiliki budaya mambaca dan menulis. Selain itu, meningkatkan kapasitas warga sekolah agar literasi sebagai bahan pembelajaran menyenangkan. ”Tak hanya itu kami juga menghasilkan berbagai buku,” ucapnya.
Dia menyebutkan, program GLS mewajibkan siswa berkunjung ke perpustakaan dan pembuatan majalah dinding. Tak hanya itu, ada pojok baca di masing-masing kelas. ”Ini tujuannya agar siswa mudah mengakses buku,” ujarnya.
Pada program GLS disiapkan berugak literasi sebagai tempat membaca.
Juga ada Gusimu Asik (Guru Siswa Menulis Buku), Oemar Bakri (Ontel Gemar Baca untuk Negeri. Serta ada Pocadi (Pojok Baca Digital). Perwakilan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Davi Briggs mengucapkan terima kasih kepada siswa dan guru Smansix. Ia ingin siswa dan guru aktif menerapkan GLS. Karena 65 persen dari siswa masih perlu dibenahi literasinya.
Sumber : Lombok Post